jump to navigation

Kesulian-kesulitan Dalam Belajar Februari 1, 2011

Posted by ristek26 in psikologi pendidikan.
trackback

PENDAHULUAN
Setelah minggu kemarin kita telah membahas peranan, sikap, minat dan motivasi dalam belajar yang di sampaikan oleh teman kita. Dan dalam kesempatan ini kami akan membahas tentang kesulitan-kesulitan dalam belajar. Dimana kesulitan-kesulitan dalam belajar yang dialami oleh anak didik sangat mempengaruh belajar anak didik dan membuat anak didik tidak nyaman dalam belajar.

PEMBAHASAN
A. Pengertian Kesulitan Belajar
Setiap anak didik datang ke sekolah tidak lain kecuali untuk belajar di kelas agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. Sebagian besar waktu yang tersedia harus digunakan oleh anak didik untuk belajar, tidak mesti ketika di sekolah, di rumah pun harus ada waktu yang disediakan untuk kepentingan belajar. Tiada hari tanpa belajar adalah ungkapan yang tetap bagi anak didik.
Prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan. Namun sayangnya ancaman, hambatan dan gangguan dialami oleh anak didik tertentu. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar.
Hasil uraian diatas kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar. Pada tingkatan tertentu memang ada anak didik yang dapat mengatasi kesulitan belajarnya, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, karena anak didik belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh anak didik.

B. Gejala-gejala Kesulitan Belajar
Berikut ini beberapa gejala-gejala sebagai adanya kesulitan dalam belajar yaitu :
1) Prestasi belajar yang rendah, di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik dikelas.
2) Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah.
3) Anak didik lambat mengerjakan tugas-tugas belajar. Anak didik selalu tertinggal dengan teman-temannya dalam segala hal. Misalnya mengerjakan soal-soal dalam waktu lama baru selesai, dalam mengerjakan tugas-tugas selalu menunda waktu.
4) Sikap anak didik kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung, dan sebagainya.
5) Tingkah laku anak didik tidak seperti biasanya. Misalnya menjadi pemurung, pemarah, selalu binggung, selalu sedih, kurang gembira, atau mengasingkan diri dari teman-teman sepermainan.
6) Anak didik tergolong memilki IQ tinggi, yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
7) Anak didik selalu menunjukan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.

C. Faktor-faktor Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar seorang anak didik biasa tampak jelas dari menurutnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Akan tetapi, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) anak didik seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat (bolos) dari sekolah.
Faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terbagi menjadi dua macam yaitu:
1. Faktor Intern Anak didik
Faktor intern anak didik, yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari dalam diri anak didik sendiri . Faktor ini meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik anak didik, yaitu:
a) Yang bersifat kognitif (ranah cipta), yaitu seperti rendahnya kapasitas intelektual/inteligensi anak didik.
b) Yang bersifat afektif (ranah rasa), yaitu seperti labilnya emosi dan sikap.
c) Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), yaitu seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).

2. Faktor Ekstern Anak didik
Faktor ekstern anak didik, yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri anak didik . Faktor ekstern anak didik ini meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang mendukung aktivitas belajar anak didik. Faktor ini terbagi menjadi tiga macam yaitu:
a) Lingkungan keluarga, misalnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b) Lingkungan perkampungan / masyarakat, misalnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
c) Lingkungan sekolah, misalnya kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta ala-alat belajar yang rendah..

Selain faktor intern dan ekstern anak didik yang bersifat umum, ada juga faktor-faktor yang lain yang menimbulkan kesulitan belajar anak didik. Dimana faktor-faktor ini dipandang sebagai faktor khusus yaitu diantaranya sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Dimana sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu. Sindrom ini terbagi menjadi tiga yaitu :
a) Disleksia (dyslexia), yaitu ketidakmampuan belajar membaca.
b) Disgrafia (dysgraphia), yaitu ketidakmampuan belajar menulis.
c) Diskalkulia (dyscalculia), yaitu ketidakmampuan belajar matematika.

Namun, anak didik yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenaranya memilki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memilki kecerdasan atas rata-rata. Oleh sebab itu, kesulitan belajar anak didik yang menderita sindrom-sindrom ini mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfuction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask, 1985: Reber, 1988).

D. Cara-cara Mengatasi Kesulitan Dalam Belajar

Untuk mengatasi kesulitan belajar tidak bisa diabaikan dengan kegiatan mencari faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Oleh karena itu, mencari sumber-sumber utama penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, efektif dan efesien.
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu di tempuh dalam mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnosis, prognosis, treatment, dan evaluasi. Untuk lebih jelasnya berikut di bawah ini tahap-tahapannya .

1. Pengumpulan data
untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh infomasi perlu diadakan pengamatan langsung terhadap objek yang bermasalah. Teknik interviu (wawancara) ataupun teknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data. Baik teknik observasi dan interviu maupun dokumentasi, ketiganya saling melengkapi dalam rangka keakuratan data. Cara lain yang dapat dilakukan dalam pengumpulkan data bisa melalui kegiatan sebagai berikut:
a. Kunjungan kerumah
b. Case study
c. Case history
d. Daftar pribadi
e. Meneliti pekerjaan anak didik
f. Meneliti tugas kelompok
g. Melakukan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi

2. Pengolahan data
Data yang telah terkumpul tidak ada gunanya bila tidak diolah secara cermat. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik jelas tidak dapat diketahui, karena data yang terkumpul masih mentah, belum dianalisis dengan saksama. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut.
a. Identifkasi kasus
b. Membandingkan antar kasus
c. Membandingkan dengan hasil tes
d. Menarik kesimpulan.

3. Diagnosis
Diagnosis ialah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data . Dalam keputusan yang diambil tentu setelah dilakukan analisis terhadap data yang diolah itu. Diognosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut.
a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.
b. Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
c. Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.

Karena diagnosis ialah penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejala atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres, maka agar akurasi keputusan yang diambil tidak keliru tentu saja diperlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi.

4. Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak didik untuk membantunya keluar dari kesulitan belajar.
Dalam penyusunan program bantuan terhadap anak didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan.

5. Teratment
Teatment ialah pelakuan. Pelakuan di sini yang dimaksudkan ialah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis bentuk treatment yang dapat di berikan ialah:
a. Melalui bimbingan individual
b. Malalui bimbingan kelompok
c. Melalui remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu
d. Melalui bimbingan orang tua di rumah
e. Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis
f. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum
g. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteriktik setiap mata pelajaran

6. Evaluasi
Evalausi ialah untuk mengetahui apakah teratment yang telah diberikan berhasil dengan baik . Artinya ada kemajuan, yaitu anak didik dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, atau gagal sama sekali. Kemungkinan berhasil atau gagal teatment yang telah diberikan kepada anak didik, dapat diketahui sampai sejauh mana kebenaran jawaban anak didik terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam materi tertentu melalui alat evaluasi berupa tes prestasi belajar.

KESIMPULAN

Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar. Kesulitan belajar sangat mempengaruhi anak didik dalam belajar. Dimana anak didik merasa tidak nyaman dalam belajar dan prestasinya turun dratis. Semoga dengan makalah ini kita sebagai calon guru dapat membantu anak didik keluar dari kesulitan dalam belajarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008, Psikologi Belajar, Jakata: Rineka Cipta.

Syah, Muhibbin. 2010, psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: