jump to navigation

Perlunya Benteng Pendidikan Islam Diperkuat Dalam Menghadapi Zaman Sekarang Februari 11, 2012

Posted by ristek26 in Sejarah Pendidikan.
trackback

PENDAHULUAN

Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT.

Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.

Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. (QS. Al Mujadilah (58) : 11)

 $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz

Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bahkan syaithan kewalahan terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat syaithan.

Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang bakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”

Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.

 

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Pentingnya Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.

Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah)[1]. Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.

Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. (QS. Ali Imran (3) : 103)

Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja.

Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan.

Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh.

Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari.

Mengapa pendidikan Islam di zaman sekarang diperlukan?

a)      Melihat kondisi nyata umat islam Akibatnya[2]:

  • umat terjebak dalam kondisi kebodohan, kelemahan dan kehinaan
  • Umat Islam berada dalam kerusakan
  • Penyebabnya:
  1. Kecintaan kepada dunia yang berlebihan dan takut mati
  2. Saling berpecah-bela
  3. Mengkotak-kotakkan ajaran Islam
  4. Meninggalkan ijtihad

b)      Hakikat jiwa manusia

  • Memiliki kecenderungan untuk berbuat fujur (dosa)
  • Terbuka untuk menerima hidayah (petunjuk)

 

  1. B.     Kesinambungan dalam Pendidikan Islam

Pendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semaki banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan.

Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma’dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW.

Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu[3]:

1. Istiqomah

Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar,:

÷ŽÉ9ô¹$#ur y7|¡øÿtR yìtB tûïÏ%©!$# šcqããô‰tƒ Næh­/u‘ Ío4ry‰tóø9$$Î/ ÄcÓÅ´yèø9$#ur tbr߉ƒÌãƒ ¼çmygô_ur ( Ÿwur ߉÷ès? x8$uZøŠtã öNåk÷]tã ߉ƒÌè? spoYƒÎ— Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ( Ÿwur ôìÏÜè? ô`tB $uZù=xÿøîr& ¼çmt7ù=s% `tã $tR̍ø.ό yìt7¨?$#ur çm1uqyd šc%x.ur ¼çnãøBr& $WÛãèù

Artinya: Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. QS. Al Kahfi (18) : 28

öNÉ)tGó™$$sù !$yJx. |NöÏBé& `tBur z>$s? y7yètB Ÿwur (#öqtóôÜs? 4 ¼çm¯RÎ) $yJÎ/ šcqè=yJ÷ès? ׎ÅÁt/

Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. QS. Hud (11): 112

2. Disiplin dalam tanggung jawab

Dalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah.

3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikan

Setiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan

 

  1. C.     Pesantren Sebagai Lembaga Benteng Pendidikan Islam

Pesantren adalah lembaga sosial-kemasyarakatan tertua di bumi Nusantara. Keberadaan besantren memiliki peran yang sangat besar dalam mobilitas masyarakat Nusantara. Tidak hanya pada peran keilmuan, keagamaan, tetapi pada peran sosial-kemasyarakatan, seperti; mobilisasi pemberdayaan ekonomi mikro, peran kenegraan dan kebangsaan, bahkan di daerah tertetu menjadi sangat dengan dekat kehidupan mobilisasi politik.

Sebagai bagian dari kekayaan khazanah kontrol sosial masyarakat Nusantara, pesantren dengan segala peran yang sangat mengakar, tidaklah heran jika pesantren melalui alumni dan santrinya sampai hari ini masih memiliki peran yang signifikan bagi perubahan sosial, terutama di level graas rood. Apalagi di tengah kondisi bangsa yang dituntut untuk selalu bebas-terbuka karena pengaruh globalisasi.

Sejarah mencatat bahwa kebangkitan bangsa ini tidak lepas dari peranserta pesantren, terutama dalam perkembangan pendidikan di Indonesia[4]. Pesantren telah membuktikan kiprahnya dalam dunia pendidikan di Indonesia mulai zaman pra kemerdekaan sampai saat ini. Pesantren juga mampu menjaga eksistensinya, bahkan mampu beradaptasi dengan tantangan pola hidup globalisasi bangsa ini.

Pesantren sebagai salah satu perintis lembaga pendidikan Islam nusantara, telah membuktikan keberhasilannya dalam membangun kualitas sumber daya manusia (human resources development) di Indonesia. Misalnya pesantren yang dulu cikal bakalnya hanya tempat mengaji Al-Qur’an, kini telah berubah menjadi tepat kajian mamahami Al-Qur,an, sains dan lainya, sehingga SDM yang dikeluarkan dari pesantren pun akan memiliki kemampuan yang mampu menjawab tantangan globalisasi, baik dari segi intlektual maupun sepiritualnya.

Sejarah pun membuktikan bahwa komunitas pesantren juga telah mampu melahirkan pemimpin bangsa dan tokoh besar masyarakat yang kemampuannya tidak diragukan lagi, sebut saja KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Gus Dur, serta masih banyak lagi tokoh-tokoh revolusioner bangsa ini yang memiliki latar belakang pesantren, dan mereka mampu menjadi pelopor dalam setiap perubahan mendasar rakyat.

Tidak kalah pentingnya adalah peran pesantren secara istiqomah dalam memposisikan dirinya sebagai “benteng pertahanan” menjaga kemurnian, kesejukan dan kedamaian ajaran Islam. Hal itu bisa kita amati bagaimana aktifitas interaksi kehidupan sosial pesantren. Pada tingkatan mikro masyarakat sekitar pesantren misalnya, SDM pesantren mampu mewarnai corak dan pola kehidupan sekitarnya dengan kesejukan dan kedamaian nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian pada aktifitas kehidupan persantren sendiri, dapat disaksikan bahwa pesantren mampu mengimplementasikan pola dan corak kehidupan yang inklusif, moderat, pluralis dan demokratis. Hal itu sesuai dengan syair yang biasa didengungkan dikalangan pesantren “menjaga agama, jiwa, harta, keluarga, akal sehat dan kehormatan adalah kewajiban setiap yang beriman”.

Sebagian realitas tersebut menyimpulkan bahwa pesantren adalah lembaga yang memiki banyak fungsi (multi fungsi), mulai sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwa Islam, beteng pertahanan ajaran Islam, sampai lembaga penjaga nilai inklusifisme, demokratisisme, dan pluralisme. Serta tidak kalah pentingnya juga adalah nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan dalam jiwa kader pesantren. Sehingga kondisi itu juga berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat kader pesantren.

Pada kondisi bangsa yang seperti sekarang ini, dimana hampir seluruh aspek kehidupan tidak menentu akibat percepatan global, pesantren sebagai basic kultur masyarakat Indonesia harus mengambil peran dalam menuntaskan problem kebangsaan, kemandirian bangsa, pertahanan dan keamanan, serta ekonomi politik. Peran strategis pesantren ini penting, karena dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia, tidak terlepas dari kekuatan potensi pesantren. Pada saat inilah optimalisasi peran alumni dan santri menjadi sangat penting, sehingga penguatan kapasitas kompetensi berdasarkan talenta yang dimiliki sangat diperlukan, baik dari keilmuan, kemadirian, kematangan kiprah di lapangan, dan kepekaan terhadapa respon perubahan social lainnya.

Berangkat dari pembacaan di atas, perwakilan santri atau alumni pondok pesantren dari baberapa daerah di pelosok nusantara ini, bermaksud untuk membuat kegiatan yang dapat menegaskan kembali identitas dan potensi pesantren sebagai salah satu “soko guru” dalam perubahan mendasar rakyat, terutama bagi masyarakat kelas bawah (graas rood). Hal itu mengingat besarnya potensi pesantren dalam membangun mobilisasi perubahan dan kemajuan masyarakat nusantara.

  1. D.    Cara Memperkuat Benteng Pendidikan Islam

Ayat ini menggambarkan bagaimana tingginya akhlaq Nabi Muhamad saw, sampai-sampai Allah SWT menyatakan secara spesifik dalam firman-Nya. Masyarakat dunia, tak terkecuali non-muslim, jika ia memahami kehidupan nabi Muhammad, akan mengakui begitu indahnya islam saat diterjemahkan oleh akhlaq rosululloh. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak orang kafir berbondong-bondong masuk islam.

Dewasa ini, kita sedang dihadapkan dengan musibah besar yang melanda akhlaq masyarakat Indonesia yakni penyebaran video porno artis terkenal. Betapa tidak, hampir semua kalangan dibuat penasaran untuk melihat adegan video porno tersebut. Menyebarnya kasus ini, tentunya memiliki dampak negatif, khususnya kalau dilihat oleh anak kecil yang belum cukup umur.

Orang tua muslim yang jujur kepada Allah yang di hatinya memiliki energi keimanan, akan merasa takut dan galau kalau anaknya menjadi korban akhlaq bejat tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga membentengi anak dan keluarganya dengan akhlaq islami. Sebagaimana Nabi Muhammad mengajarkan akhlaq islam yang mulia dan agung, berikut beberapa kiat yang bisa menjadi acuan dalam membangun akhlaq islami:

1. Menjadikan Akhlaq Islam Sebagai Prioritas Utama dalam Keseluruhan Aktivitas

Boleh saja kita mendidik dan memiliki cita-cita agar buah hati sukses di bidang tertentu, misalnya menjadi ahli ekonomi, ahli pendidikan, ahli politik, ahli kedokteran dan lain sebagainya. Namun perlu diperhatikan, dari itu semua, akhlaq islam haruslah menjadi prioritas utama yang ditanamkan sejak dini. Jadikanlah al-Quran sebagai pegangan utama untuk menghadirkan akhlaq islam kepada anak-anak.

Jika hal ini diterapkan, niscaya anak memiliki pribadi dengan akhlaq yang mulia. Ia tidak akan menipu, menghancurkan bangsa, mengikuti nafsu, dan menghalalkan sesuatu dengan berbagai cara. Al-quran dalam sejarahnya diturunkan selama 13 tahun, fokus mengajarkan manusia beraqidah dan akhlq yang baik.

2.  Meyakini  bahwa Akhlaq Islam adalah Permanen Sepanjang Masa.

Akhlaq yang diajarkan Islam bersifat permanen. Ia tidak luntur atau lekang dimakan waktu dan tempat. Saat al-Quran mengajarkan berbuat baik kepada orang tua, maka nilai ini berlaku sepanjang masa. Begitu pula saat al-Quran menyatakan jangan mendekati zina, maka nilai inipun berlaku sepanjang masa.

Saat ini, begitu dahsyatnya propaganda yang bertujuan menggeser nilai-nilai islam, agar jauh dari pemeluknya, misalnya berbuat zina, minuman khamar, dan lain sebagainya. Dengan alasan mengikuti trend, tidak sedikit anak-anak mengikuti budaya yang bertentangan dengan nilai Islam. Kaum Yahudi memerangi umat islam bukanlah menggunakan senjata, namun yang mereka lakukan melalui seonggok wanita dan secangkir minuman keras. Ia akan lebih dahsyat pengaruhnya dibanding bom atom.

3. Akhlaq Islam Harus Dibina Sejak Kecil Sampai Akhir Hayat

Seorang anak jika melakukan sesuatu yang tidak benar, haruslah diingatkan dan diperbaiki, bukan malah dibiarkan. Rosul mengajarkan akhlaq islam kepada cucu-cucunya sejak masih kecil. Saat makan haruslah menggunakan tangan kanan dan membaca bismilah. Saat mengambil makanan, ambillah makanan yang dekat. Saat cucu nabi mengambil kurma dari kumpulan zakat, Nabi berkata, ” Taruhlah nak, karena bagi kita tidak halal mengambil zakat/shodaqoh”.

4. Meyakini Akhlaq Islam Bersifat Universal dan Menyeluruh

Akhlaq islam haruslah dilakukan di dalam seluruh aspek kehidupan, dimana dan kapanpun berada. Tidak hanya di mesjid, namun juga saat berada di luar mesjid, misalnya rumah, perusahaan, saat menjadi pemimpin, kepala keluarga, kepala negara, dan lain sebagainya. Jangan hanya sholeh di mesjid, namun di luar mesjid sama saja akhlaqnya dengan orang kafir.

5. Menjaga dan Memelihara Lingkungan Sekitar

Berhati-hatilah dengan lingkungan dimana anak berada. Jagalah lingkungan anak agar ia dekat dengan nilai-nilai islam. Menjadi tanggung jawab orang tua untuk menjaga anak dari pengaruh lingkungan negatif. Saat anak mengakses internet, berhati-hatilah agar ia tidak terjerembab membuka situs-situs yang merusak moral. Saat anak sudah mengenal lawan jenis, berhati-hatilah dengan pergaulan di luar rumahnya, dan lain sebagainya.

 

 

 

 

PENUTUP

Sangatlah perlu memperkuat benteng pendidikan Islam dalam menghadapi zaman sekarang ini, karena zaman sekarang banyak perubahan dimana perubahan ini akan mempengaruhi pendidikan. Dimana tujuan pendidikan Islam sendiri adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh.

Demikianlah makalah yang saya buat. Saya mohon maaf bila dalam penulisan makalah ini ada kata yang salah dan dalam pembahasan kurang lengkap taua pun kurang jelas. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 


[1] http://materitarbiyah.wordpress.com/2008/02/01/pentingnya-pendidikan-islam/

[2] http://mentoring98.wordpress.com/2008/07/05/pentingnya-pendidikan-islam/

[3] http://materitarbiyah.wordpress.com/2008/02/01/pentingnya-pendidikan-islam/

[4] http://www.pesantrennusantara.com/profilep3sn/latar-belakang-p3sn.html

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: