jump to navigation

“Sisitem Boarding Campus, Upaya Memadukan Sisitem Pendidikan Tradisinal Dan Modern Antara Harapan Dan Kebudayaan” Februari 11, 2012

Posted by ristek26 in Sosiologi Pendidikan.
trackback

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam atau “Pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah. Pendidikan Islam bukan sekedar “transfer of knowledge” ataupun “transfer of training”, ….tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan; suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dan pendidikan juga merupakan proses pendidikan sepanjang hayat, dan pendidikan akan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman.

Dari pengertian di atas, pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan demikian, “pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia.

  1. Tujuan

Tujuan dari pendidikan adalah untuk mengubah manusia ke arah yang lebih baik, dan mempunyai masa depan yang cerah dan terarah. Dan tujuan dari pemilihan judul ini adalah untuk mengetahui bagainama program pendidikan boarding baik yang tradisional maupun yang modern, dan juga untuk memadukan antara pendidikan tradisional dan modern dengan budaya dan harapan yag ada dimasyarakat kita ini sekarang.

  1. Manfaat

Manfaat dari pendidikan itu sendiri adalah melahirkan atau menciptakan generasi penerus yang berakhlak yang mulia, yang berdasarkan tuntunan rasul dan al-qur’an dan hadis. Dan juga menjadikan kita berwawasan lebih luas lagi. Dan juga untuk mengetahui sejauh mana pendidikan tradisional dan modern ini berjalan secara berdampingan atau bersamaan. Apakah pendidikan di indonesian ini sudah berkembang apa belun, dan apakah hanya pendidikan modern saja yang berkembang dan pendidkan tradisioanal tidak, ataukah keduanya sama berkembangnya yang ada disekolah-sekolah.

 

 

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN
    1. System boarding campus

Kata Sistem awalnya berasal dari bahasa Yunani (sustēma) dan bahasa Latin (systēma). Berikut ini ada beberapa pengertian sistem yang diambil dari berbagai sumber.

  1. Pengertian dan definisi sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung membentuk keseluruhan yang kompleks.
  2. Kesatuan gagasan yang terorganisir dan saling terikat satu sama lain.
  3. Kumpulan dari objek atau fenomena yang disatukan bersama untuk tujuan klasifikasi atau analisis.
  4. Adanya suatu kondisi harmonis dan interaksi yang teratur.

Sedangkan system menurut para ahli ada beberapa definisi diantranya adalah :

  1. L. James Havery

Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

 

  1. John Mc Manama

Menurutnya sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien.

  1. Edgar F Huse dan James L. Bowdict

Menurutnya sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan.

Dari pengertian diatas dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan sisitem boarding campus adalah siistem yang didalamnya terdapat berbagai komponen-komponen yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya dalam mencapai tujuan yang terdapat dalam misi dan visi yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak pendidikan atau yang telah direncanakan oleh anggota suatu lembaga. Dalam sisitem boarding campus biasanya terdapat kebijakan-kebijakan yang harus dilaksanakan oleh pihak-pihak yang terdapat dalam campus tersebut. Biasanya kebijakan-kebijakan itu dibuat oleh ketua yayasan yang harus dijalankan oleh seluruh anggota-anggota yang ada dalam kampus tersebut, dan didalam kebijakan-kebijakan yang ada dilembaga pendidikan, khususnya boarding campus biasanya mencangkup antara lain adalah input, proses, output dan outcame. Dan dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan input sendiri adalah orang-orang yang akan menjalankan kebijakan-kebijakan yang telah direncanakan, siapa saja yang akan menjalankan itu semua? Kalau dalam kampus sendiri adalah pihak rektorat, para dosen, para karyawan dan para mahasiswa. Setelah input itu lengkap selanjutnya adalah bagaimana proses untuk menghasilkan output-output yang baik, output itu akan dihasilkan dengan baik apabila dari proses itu sendiri baik, apabila output itu baik maka akan memberikan outcame-outcame yang dicari oleh masyarakat luas. Seperti, ia akan diminta menjadi tenaga pendidik diekolah-sekolah tingkat nasional baik itu tingkat SMP ataupun SMA, bahkan oleh perguruan tinggi.

  1. Pendidikan tradisional dan modern

Pendidikan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Menurut konsep ini rasio ingatanlah yang memegang peranan penting dalam proses belajar di sekolah (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan tradisional telah menjadi sistem yang dominan di tingkat pendidikan dasar dan menengah sejak paruh kedua abak ke-19, dan mewakili puncak pencarian elektik atas ‘satu sistem terbaik.

Ciri utama pendidikan tradisional termasuk :

(1) anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu,

(2) mereka kemudian dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur,

(3) anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu,

(4) mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran,

(5) prinsip sekolah otoritarian, anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang sudah ada,

(6) guru memikul tanggung jawab pengajaran, berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan,

(7) sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks,

(8) promosi tergantung pada penilaian guru,

(9) kurikulum berpusat pada subjek pendidik,

(10) bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks (Vernon Smith, dalam, Paulo Freire, dkk, 1999 : 164-165).

Lebih lanjut menurut Vernon Smith, pendidikan tradisional didasarkan pada beberapa asumsi yang umumnya diterima orang meski tidak disertai bukti keandalan atau kesahihan. Umpamanya:

1). ada suatu kumpulan pengetahuan dan keterampilan penting tertentu yang musti dipelajari anak-anak;

2). tempat terbaik bagi sebagian besar anak untuk mempelajari unsur-unsur ini adalah sekolah formal, dan

3). cara terbaik supaya anak-anak bisa belajar adalah mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas yang ditetapkan berdasarkan usia mereka (Vernon Smith, dalam, Paulo Freire, dkk, 1999 : 165).

Ciri yang dikemukan Vernon Smith ini juga dialami oleh pendidikan Islam di Indonesia sampai dekade ini. Misalnya : Sebagian Pesantren, Madrasah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain masih menganut sistem lama, kurikulum ditetapkan merupakan paket yang harus diselesaikan, kurikulum dibuat tanpa atau sedikit sekali memperhatikan konteks atau relevansi dengan kondisi sosial masyarakat bahkan sedikit sekali memperhatika dan mengantisipasi perubahan zaman, sistem pembelajaran berorientasi atau berpusat pada guru. Paradigma pendidikan tradisional bukan merupakan sesuatu yang salah atau kurang baik, tetapi model pendidikan yang berkembang dan sesuai dengan zamannya, yang tentu juga memiliki kelebihan dan kelemahan dalam memberdayakan manusia, apabila dipandang dari era modern ini.

Dampak dari semua kemajuan masyarakat modern, kini dirasakan demikian fundamental sifatnya. Ini dapat ditemui dari beberapa konsep yang diajukan oleh kalangan agamawan, ahli filsafat dan ilmuan sosial untuk menjelaskan persoalan yang dialami oleh masyarakat. Misalnya, konsep keterasingan (alienation) dari Marx dan Erich Fromm, dan konsep anomie dari Durkheim. Baik alienation maupun anomie mengacu kepada suatu keadaan dimana manusia secara personal sudah kehilangan keseimbangan diri dan ketidakberdayaan eksistensial akibat dari benturan struktural yang diciptakan sendiri. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak lagi merasakan dirinya sebagai pembawa aktif dari kekuatan dan kekayaannya, tetapi sebagai benda yang dimiskinkan, tergantung kepada kekuatan di luar dirinya, kepada siapa ia telah memproyeksikan substansi hayati dirinya (Kuntowijoyo, 1987., dikutip, A.Malik Fajar, 1995 : 4).

Konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu ; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan sosial kulturalnya yang terus berubah dengan cepat.

Shipman (1972 : 33-35) yang dikutip Azyumardi Azra bahwa, fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat modern yang tengah membangun terdiri dari tiga bagian :

(1) sosialisasi,

(2) pembelajaran (schooling), dan

(3) pendidikan (education).

Pertama, sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan. Kedua, pembelajaran (schooling) mempersiapkan mereka untuk mencapai dan menduduki posisi sosial-ekonomi tertentu dan, karena itu, pembelajaran harus dapat membekalai peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosial-ekonomis dalam masyarakat. Ketiga, pendidikan merupakan “education” untuk menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program pembangunan” (Azyumardi Azra, dalam Marwan Saridjo, 1996: 3)

Semua persoalan fundamental yang dihadapi oleh masyarakat modern yang digambarkan di atas, “menjadi pemicu munculnya kesadaran epistemologis baru bahwa persoalan kemanusian tidak cukup diselesaikan dengan cara empirik rasional, tetapi perlu jawaban yang bersifat transendental” (A.Malik Fajar, 1995 : 4). Melihat persoalam ini, maka ada peluang bagi pendidikan Islam yang memiliki kandungan spritual keagamaan untuk menjawab tantangan perubahan tersebut. Fritjop Capra dalam buku The Turning Point, yang dikutip A.Malik Padjar (1995 : 4),

Keprihatinan Toynbee melihat perkembangan peradaban modern yang semakin kehilangan jangkar spritual dengan segala dampak destruktifnya pada berbagai dimensi kehidupan manusia. Manusia modern ibarat layang-layang putus tali, tidak mengenal secara pasti di mana tempat hinggap yang seharusnya. Teknologi yang tanpa kendali moral lebih merupakan ancaman. Dan “ancaman terhadap kehidupan sekarang” tulis Erich Fromm, “bukanlah ancaraman terhadap satu kelas, satu bangsa, tetapi merupakan ancaman terhadap semua” (Erich Fromm, dikutip : A. Syafi’i Ma’arif, 1997 : 7). Menurut A. Syafi’i Ma’arif, bahwa sistem pendidikan tinggi modern yang kini berkembang di seluruh dunia lebih merupakan pabrik doktor yang kemudian menjadi tukang-tukang tingkat tinggi, bukan melahirkan homo sapiens. Bangsa-bangsa Muslim pun terjebak dan terpasung dalam arus sekuler ini dalam penyelenggaraan pendidikan tingginya. Kita belum mampu menampilkan corak pendidikan alternatif terhadap arus besar high learning yang dominan dalam peradaban sekuler sekarang ini. Prinsip ekonomi yang menjadikan pasar sebagai agama baru masih sedang berada di atas angin. Manusia modern sangat tunduk kepada agama baru ini (A.Syafi’i Ma’arif, 1997 : 7-8).

Sebagian besar masyarakat modern memandang lembaga-lembaga pendidikan sebagai peranan kunci dalam mencapai tujuan sosial Pemerintah bersama orang tua telah menyediakan anggaran pendidikan yang diperlukan sceara besar-besaran untuk kemajuan sosial dan pembangunan bangsa, untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional yang berupa nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan seperti rasa hormat kepada orang tua, kepada pemimpin kewajiban untuk mematuhi hukum-hukum dan norma-norma yang berlaku, jiwa patriotisme dan sebagainya.

Pendidikan juga diharapkan untuk memupuk rasa takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kemajuan-kemajuan dan pembangunan politik, ekonomi, sosial dan pertahanan keamanan. Pendek kata pendidikan dapat diharapkan untuk mengembangkan wawasan anak terhadap ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan secara tepat dan benar, sehingga membawa kemajuan pada individu masyarakat dan negara untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.

Perbandingan pendidikan tradisional dengan pendidikan modern

Pendidikan Tradisional :
Guru berbicara murid menyimak
One man show dimana guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan
Tatanan bangku berurut
Masih diberlakukan bentuk hukuman fisik bagi siswa yang tidak taat
Pendidikan Modern :
Guru sebagai fasilitator
Peserta didik juga pelaku pendidikan
Memanfaatkan perkembangan media pembelajaran
Tidak melakukan hukuman fisik
Tempat pembelajaran bisa dimana saja

Dalam dunia pesantren lebih banyak mendominasi pada pelajaran agama dibanding dengan pelajaran-pelajaran diluar agama, sedangkan dalam pendidikan modern lebih banyak didominasikan dengan pelajaran-pelajaran umum disbanding dengan pelajaran-pelajaran agama. Oleh karena itu dunia pendidikan haruslah menyeimbangkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum yang ada disekolah-sekolah. Dan juga dalam dunia pesantren lebih banyak memberikan materi-materi dengan cara ceramah-ceramah atau masih (teacher center) atau masih tertuju pada guru, sehingga para murid lebih banyak pasifnya dari pada aktifnya, sedangkan pada pendidikan modern, guru hanya memberikan fasilitas atau sebagai fasilitator, dan muridnya yang lebih banyak aktifnya dari pada gurunya atau yang sering disebut dengan (student center) yang perpacu pada siswa. Maka dari itu antara keduanya haruslah seimbang, antara teacher center dan student center.

  1. Antara harapan dan kebudayaan

Pengertian Kebudayaan – Banyak berbagai definisi tentang kebudayaan yang telah di paparkan oleh para ahli. Dari berbagai definisi dapat diperoleh kesimpulan mengenai pengertian kebudayaan yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kata budaya atau kebudayaan itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara lebih rinci, banyak hal-hal yang dapat kita pelajari tentang definisi kebudayaan. Bagaimana cara pandang kita terhadap kebudayaan, serta bagaimana cara untuk menetrasi kebudayaan yang faktanya telah mempengaruhi kebudayaan lain.

Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berdoa atau berusaha.

Upaya untuk memadukan antara pendidikan tradisional dengan pendidikan modern antara harapan dan kebudayaan adalah dengan cara mencampurkan antara pelajaran yang ada di lembaga-lembaga pesantren/modern dengan pelajaran yang bukan pesantren atau sekolah-sekolah umum. Dikarenakan harapan-harapan yang ada di dunia pesantren dan yang ada diluar pesantren tentunya sangat berbeda, begitu juga dengankebudaaan masing-masing. Dengan begitu untuk menyamakan antara keduanya yaitu dengan cara yang telah disebutkan diatas, yaitu dengan menyatukan atau mencari perbedaan atau persamaan antara harapan dan kebudayaan yang kemudian di terapkan dalam dunia pendidikan tersebut.

Dan upaya yang lainnya juga harus memperhatikan semua aspek baik itu yang ada di pendidikan tradisional maupun yang ada di pendidikan modern, baik dari segi mata pelajaran, isi materi, cara kegiatan belajar mengajar, merodenya, dan lain sebagainya, agar harapan-harapan yang ada disekolah-sekolah itu bisa terwujud sesuai dengan apa yang diharapkan sebelumnya.

 

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat dimbil kesimpulan bahwa pendidikn tradisional dan pendidikan modern merupakan pendidikan yang sangat berbeda, oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus harus bisa menyatukan antara keduanya, baik dari segi harapan, kebudayaan, isi mata pelajaran, dan yang lainnya yang berkaitan dengan proses pendidikan itu sendiri.

pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang.

  1. Saran

Pemerintah harus bisa memadukan antara pendidikan tradisional dengan peendidikan modern diseluruh sekolah-sekolah, baik itu sekolah yang ada dipedesaan maupun yang ada diperkotaan. Baik itu dari segi isi materi, proses kegiatan belajar mengajar serta system yang ada disekolahnya itu tersebut. Dan pemerintah juga harus bisa menyeimbangkan antara pendidikan agama khususnya dan pendidikan umum, karena pada masa sekarang ini dunia membutuhkan generasi-generasi penerus yang berakhlak mulia, yang bisa memahami ilmu agama secara baik, benar dan tepat.

 

DAFTAR PUSTAKA

      Azra, Azyumardi, dalam Marwan Saridjo, “Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam”, Amissco, Jakarta, 1996.

Machmud, M.Dimyati, “Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, BPFE, 1990.

Freire,, Paulo dkk., “Menggugat Pendidikan Fundamental Konservatif Liberal Anarkis”, Terj., Omi Intan Naomi, Pustaka Pelajar, 1999.

Fadjar, A.Malik, “Menyiasati Kebutuhan Masyarakat Modern Terhadap Pendidikan Agama Luar Sekolah, Seminar dan Lokakarya Pengembangan Pendidikan Islam Menyongsong Abad 21, IAIN”, Cirebon, tanggal, 31 Agustus s/d 1 September 1995

Ma’arif, Ahmad Syafi’i “Pemikiran tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Dalam Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta”, Editor : Muslih Usa, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1991.

http://id.wikipedia.org/wiki/Harapan

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: