jump to navigation

Ulum Al-Quran Dan Sejarah Perkembangannya Oktober 11, 2012

Posted by ristek26 in Ulumul Quran.
trackback

PENDAHULUAN

Alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan dan rahmat-Nya, yang mana kita sebagai makhluk-Nya tak mampu menghitung nikmat dan rahmat-Nya yang telah diberikan kepada kita. Dan semoga shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi cahaya penerang bagi umat manusia.

Dalam kesempatan ini pemakalah akan membahas tentang Ulum Al-Qur’an dan Sejarah Perkembangannya yang mana dalam pembahasannya meliputi pengertian Ulum Al-Qur’an, Ruang Lingkup dan Pokok-pokok bahasan Ulum Al-Qur’an dan Sejarah Perkembangan Ulum Al-Qur’an.

PEMBAHASAN

  1. 1.      Pengertian Ulum Al-Qur’an

Ungkapan “Ulum Al-Qur’an” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu “Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata “Ulum” merupakan bentuk jamak dari kata ”ilmu”. Yang dimaksud ilmu disini, sebagaimana yang didefisinikan Abu Syabah yaitu sejumlah meteri pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau tujuan. Sedangkan Al-Qur’an menurut  Ulama Ushul, Ulama Fiqih dan Ulama Bahasa adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW yang lafazh-lafazhnya mengandung mujizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir dan yang ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas. Sedangkan secara bahasa Ulum Al-Qur’an adalah Ilmu (pembahasan-pembahasan) yang berkaitan dengan Al-Qur’an.[1]

  1. 2.      Ruang Lingkup Dan Pokok-Pokok Pembahasan Ulum Al-Qur’an
  2. Ruang Lingkup

Mengingat banyaknya ilmu yang berkaitan dengan pembahasan Al-Qur’an, maka dalam ruang lingkup pemabahasan ulumul quran itu jumlahnya sangatlah banyak. Menurut Abu Bakar Al-‘Arabi, ilmu-ilmu Al-Qur’an itu mencapai 77.450. hitungan ini diperoleh dari hasil perkalian jumlah kalimat Al-Qur’an dengan empat, karena masing-masing kalimat mempunyai makna zhahir, batin, had dan mathla.

Menurut M. Hasbi Ash-Shiddieqy, beliau berpendapat bahwa ruang lingkup pembahasan Ulumul Qur’an terdiri dari enam hal pokok yaitu[2]:

  1. Persoalan turunnya Al-Qur’an
  2. Persoalan sanad
  3. Persoalan Qira’at
  4. Persoalan kata-kata
  5. Persoalan makna-makna Al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum
  6. Persoalan Makna-makna Al-Qur’an yang berpautan dengan kata-kata Al-Qur’an
  7. Pokok-pokok

Di antara pokok-pokok pembahasan ulumul Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Ilmu Adab Tilawat Al-Qur’an, yaitu ilmu-ilmu yang menerangkan aturan-aturan dalam pembacaan Al-Qur’an.
  2. Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang menerangkan cara-cara membaca Al-Qur’an, tempat memulai atau tempat berhenti.
  3. Ilmu Mawathin An-Nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan tempat musim, awal dan akhir turun ayat.
  4. Ilmu Tawarikh An-Nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan masa dan urutan turun ayat, satu demi satu dari awal hingga akhir turunnya.
  5. Ilmu Asbab An-Nuzul, yaitu ilmu yang menjelaskan kejadian-kejadian historis serta peristiwa-peristiwa yang melatar belakangi (sebab-sebab) turunnya nash Al-Qur’an.[3]
  6. Ilmu Qira’at, yaitu ilmu yang menerangkan ragam pembacaan Al-Qur’an yang telah diterima Rasulullah SAW.
  7. Ilmu Gharib Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak dapat dalam kitab-kitab konvensional, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari.
  8. Ilmu Irab Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan harakat Al-Qur’an dan kedudukan sebuah kata dalam kalimat.
  9. Ilmu Wujuh Wa An-Nazhar’ir, yaitu ilmu yang menerangkan kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai makna lebih dari satu.
  10. Imu Ma’rifat Al-Muhkam Wa Al-Mutasyabih, yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan yang dipandang mutasyabih.
  11. Ilmju Nasikh Wa Al-Mansukh, yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang mansukh oleh mufassir.
  12. Ilmu Badai’u Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan keindahan susunan bahasa Al-Qur’an.
  13. Ilmu I’jaz Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan segi-segi kekuatan Al-Qur’an sehingga suatu mukjizat dan dapat melemahkan segala penantang-penantangnya.
  14. Ilmu Tanasub Ayat Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
  15. Ilmu Aqsam Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an.
  16. Ilmu Amtsal Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat perumpamaan yang dikemukakan Al-Qur’an.
  17. Ilmu Jadal Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan macam-macam perdebatan yang telah dihadapkan Al-Qur’an kepada segenap kaum musyrikin dan kelompok lainnya.

 

  1. 3.      Sejarah Perkembangan Ulum Al-Qura’an
  2. Fase sebelum kodifikasi

            Pada fase ini, Ulum Quran kurang lebih sudah merupakan benih yang kemunculannya sangat dirasakan semenjak Nabi masih ada. Hal itu ditandai dengan kegairahan para sahabat untuk mempelajari Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh.

            Kegairahan para sahabat untuk mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an tampak lebih kuat lagi ketika Nabi hadir ditengah-tengah mereka. Hal ini yang kemudian Ibn Tamiyyah untuk mengatakan bahwa Nabi sudah menjelaskan apa-apa yang menyangkut penjelasan Al-Qur’an kepada para sahabat. Berikut ini beberapa riwayat yang membuktikan adanya penjelasan Nabi kepada para sahabat menyangkut penafsiran Al-Qur’an.

            Riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan lainnya dari ‘Adi bin Hayyan. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:[4]

إِنَّ الْمَغْضُوْبَ عَلَيْهِمْ : هُمُ الْيَهُوْدُ , وَإِنَّ الضَّآ لِّيْنَ : هُمُ الْنَّصَارَى .

Artinya : “Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai Allah adalah orang-orang Yahudi, sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang Nashrani”.

  1. Fase kodifikasi

            Pada fase sebelum kodifikasi Ulum Al-Qur’an juga ilmu-ilmu lainya belum dikodifikasikan dalam bentuk kitab (mushaf). Satu-satunya yang sudah dikodifikasikan saat itu hanyalah Al-Qur’an. Fenomena itu terus berlangsung sampai ketika Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad Ad-Da’uli (w. 69 H) untuk menulis ilmu nahwu dengan tujuan untuk menjaga keselamatan Al-Qur’an.[5] Maka  dengan ini Ali a.s adalah orang pertama yang meletakan dasar-dasar ilmu I’rab Al-Qur’an. Perintah Ali bin Abi Thalib inilah yang membuka gerbang pengodifikasian ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Pengodifikasian itu semakin marak dan meluas ketika Islam berada pada tangan pemerintahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiah pada periode-periode awal pemerintahan.

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad II H

Masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai sejak permulaan abad II H., para Ulama memberikan prioritas atas penyusunan tafsir, sebab tafsir merupakan induk Ulum Al-Quan. Diantara ulama yang menyusun tafsir yaitu:

a)      Syu’bah Al-Hajjaj (w.160 H)

b)      Sufyan bin ‘Uyainah(w. 198 H)

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad III H

Pada masa ini selain tafsir dan ilmu tafsir para Ulama mulai menyusun pula beberapa Ilmu Al-Qur’an (Ulum Al-Qur’an), diantaranya:

a)      ‘Ali bin al-Madini (w. 234), gurunya Imam Al-Bukhari yang menyusun Ilmu Asbab An-Nuzul

b)      Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam (w. 224) yang menyusun ilmu Nasikh wa Al-Mansukh. Ilmu Qira’at dan Fadha’il Al-Qur’an.

c)      Syu’bah Ibn al-Hajjar(w. 160 H).[6]

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad IV H

Pada abad IV H. ini mulai disusun Ilmu Gharib Al-Qur’an dan beberapa kitab Ulum Al-Qur’an dengan memakai istilah Ulum Al-Qur’an. Di antara Ulama yang menyusunya yaitu:

a)      Abu Bakar As-Sijistani (w. 330H) yang menyusun kitab Al-Gharib Al-Qur’an.

b)      Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari (w. 328 H) yang menyusun kitab ‘Aja’ib UlumAl-Qur’an.

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad V H

Pada abad V H ini mulai disusun ilmu I’rab Al-Qur’an dalam satu kitab.[7] Disamping itu penulisan kitab-kitab Ulum Al-Qur’an masih terus dilakukan oleh Ulama masa ini. Dianatara ulama yang berjasa dalam pengembangan Ulum Al-Qur’an pada masa ini yaitu:

a)      ‘Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (w. 430 H). selain penyusunan Irab Al-Qur’an, beliau juga menyusun kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an.[8]

b)      Abu ‘Arm Ad-Dani (w. 444 H) yang menyusun kitab At-Taisir fi Qira’at As-Sab’I dan kitab Al-Muhkam fi An-Naqth.

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad VI H

Pada abad VI H disamping terdapat Ulama yang meneruskan pengembangan Ulum Quran juga terdapat Ulama yang memulai menyusun Ilmu Mubhamat Al-Qur’an, diantaranya yaitu:

a)      Abu Al-Qasim bin Abdurrahman As-Suhaili (w. 581 H) yang menyusun kitab Mubhamat Al-Qur’an.

b)      Ibn al-Jauzi (w. 597 H) yang menyusun kitab Funun Al-Afnan fi’Aja’ib Al-Qur’an dan kitab Al-Mujtaba’fi Ulum Tata’allaq bi Al-Qur’an

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad VII H

Pada masa ini ilmu-ilmu Al-Qur’an terus berkembang dengan mulai tersusunnya Ilmu Majaz Al-Qur’an dan Ilmu Qira’at. Diantara Ulama pada masa ini yang besar perhatiannya terhadap ilmu-ilmu ini yaitu:

a)      Alamuddin As-Sakhawi (w. 643). Kitabnya mengenai ilmu Qira’at yang dinamai Hidayat Al-Murtab fi Mutasyabih dan Jamal Al-Qur’an.

b)      Ibn ‘Abd As-Salam yang terkenal dengan nama Al-‘Izz (w. 660 H) yang memelopori penulisan ilmu Majaz Al-Qur’an.

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad VIII H

Pada abad VIII H muncullah beberapa Ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang Al-Qur’an, sedangkan penulisan kitab-kitab tentang Umul Al-Qur’an terus berjalan. Di antara Ulamanya yaitu:

a)      Ibn Abi Al-Isba’ yang menyusun Ilmu Badai’I Al-Qur’an, suatu ilmu yang membahas macam-macam badi’(keindahan bahasa dan kandungna Al-Qur’an) dalam Al-Qur’an.

b)      Ibn Al-Qayyim (w. 752 H) yang menyusun Ilmu Aqsam Al-Qur’an, suatu Ilmu yang membahas sumpah-sumpah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad IX dan X H

Pada masa ini yaitu abad IX dan permulaan abad X H makin banyak karangan yang ditulis Ulama tentang Ulum Al-Qur’an. Perkembangan Ulum Al-Qur’an mencapai kesempurnanya. Di antara Ulama yang menyusun Ulum Al-Qur’an pada ini yaitu:

a)      Jalaluddin Al-Bulqin (w. 824 H) yang menyusun kitab Mawaqi’ Al-Ulum min MAwaqi’ al-Nujum.

b)      Muhammad bin Sulaiman Al-Kafiyaji (w. 879 H) yang menyusun kitab At-Taisir fi Qawa’id At-Tafsir. Karya itu terdiri dari dua bab dan penutup, bab pertama menjelaskan makna tafsir, takwil, Al-Qur’an, surat dan ayat. Dan bab kedua menjelaskan syarat-syarat penafsiran bi al-ra’yi yang dapat diterima, sedangkan khatimahnya berisi etika-etika guru dan murid.

  1. Perkembangan Ulum Al-Qur’an Abad XIV H

Setelah memasuki abad XIV H bangkitlah kembali perhatian Ulama dalam menyusun kitab-kitab yang membahas Al-Qur’an dari berbagai segi. Kebangkitan ini diantaranya dipicu oleh kegiatan ilmiah di Universitas Al-Azhar Mesir, terutama ketika Universitas ini membuka jurusan-jurusan bidang studi yang menjadikan tafsir dan hadis sebagai salah satu jurusannya.[9]

Berikuti ini karya-karya Ulum Al-Qur’an yang lahir pada masa ini adalah:

a)      Syekh Thahir Al-Jazairi yang menyusun kitab At-Tibyan fi Ulum Al-Qur’an yang selasai pada tahun 1335 H.[10]

b)      Jamaliddin Al-Qasimy (w. 1332 H) yang menyusun kitab Mahasin Al-Ta’wil. Juz pertama kitab ini dikhususkan untuk membicarakan Ulum Al-Qur’an.

c)      Muhammad ‘Abd Al-Azhim Az-Zarqani yang menyusun kitab Manahil Al-‘Irfan fi Ulum Al-Qur’an(2jilid).

PENUTUP

Begitu banyak ilmu-ilmu yang membahas Al-Qur’an, ini sebuah bukti begitu agungnya Al-Qur’an sehingga tidak cukup dengan satu Ilmu untuk membahas Al-Qur’an. Sehingga pada abad V H muncullah istilah Ulumul Quran setelah disusun kitab yang bernama “ al Burhan fi Ulumil Quran” oleh Ali Ibn Ibrahim Ibn Said. Karena kitab beliau merupakan karya ilmiah yang besar yang telah merintis penulisan ‘Ulum Al-Qur’an secara lengkap.

Demikianlah makalah yang kami buat, kami pemakalah memohon maaf bila dalam penulisan makalah ada kesalahan dan dalam pembahasan kurang lengkap dan kurang jelas. Kami hanya manusia biasa yang tidak sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Atas perhatian dan pastisipasinya kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

  • Anwar, Rosihon. Ulum Al-Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia. 2008
  • Al-Aththa, Dawud. Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Hidayah. 1994
  • Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang. 1993

[1] Rosihon Anwar,(2008),Ulum Al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, hal. 11, cet. 1

[2] Rosihon Anwar,(2008),Ulum Al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, hal. 14, cet. 1

[3] Dawud Al-Aththar,(1994), Perspektif Baru Ilmu Al-Quran, Bandung: Pustaka Hidayah, hal.25, cet. 1

[4] Rosihon Anwar,(2008),Ulum Al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, hal. 18, cet. 1

[5] Dawud Al-Aththar,(1994), Perspektif Baru Ilmu Al-Quran, Bandung: Pustaka Hidayah, hal. 31, cet. 1

[6] M. Hasbi Ash-Shiddieqy,(1993), Ilmu-ilmu Al-Quran, Jakarta: Bulan Bintang, hal. 3, cet. 3

[7] Rosihon Anwar,(2008),Ulum Al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, hal. 21, cet. 1

[8] M. Hasbi Ash-Shiddieqy,(1993), Ilmu-ilmu Al-Quran, Jakarta: Bulan Bintang, hal. 5, cet. 3

[9] Rosihon Anwar,(2008),Ulum Al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, hal. 24, cet. 1

[10] M. Hasbi Ash-Shiddieqy,(1993), Ilmu-ilmu Al-Quran, Jakarta: Bulan Bintang, hal 8 , cet. 3

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: