jump to navigation

Ashabah Desember 27, 2012

Posted by ristek26 in Fiqih Mawarits.
trackback

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan bila tiada yang mengatur pasti akan menjadi kacau. Seperti halnya dengan hubungan manusia dengan manusia. Manusia mempunyai aturan yang di buat oleh negara yang didiaminya. Serta Tuhan pun mengatur manusia agar manusia itu hidup bermaslahat. Seperti halnya dalam hukum mawaris, Allah telah mengaturnya sesuai dengan pembagiannya yang tercantum dalam Al Quran. Hukum mawaris tidak bisa di gannggu gugat karena itu sudah ketetapan Allah SWT yang tercantum dalam Al Quran. Tidak mungkin hukum mawaris membuat manusia menjadi sengsara. Melainkan memudahkan dan memaslahatkan manusia.

Dalam kesempatan kali pemakalah akan membahas salah satu dari hukum waris yaitu ashabah serta susunan dan pembagiannya.

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Ashabah

Kata ashabah adalah bentuk mashdar dari kata ashshaba, yu’ashshib, ta’shib. Orangnya atau bentuk subyeknya adalah ‘ashib dan jamak atau bentuk pluralnya adalah ‘ashabah atau ‘ashabat. Kata ashabah biasanya juga digunakan dalam bentuk tunggal dan jamak, baik laki-laki maupun perempuan.[1]  Hal ini dikatakan oleh pengarang kitab dhawi as-siraj.

Ibnu Shalah berkata. “ pemakaian kata itu di gunakan untuk bentuk tunggal dan diambil dari kebiasaan pembicaraan orang arab.

Jadi ashabah adalah laki-laki dari kerabat si mayit, di mana dalam nisbatnya ke si mayit, tidak ada perempuan.  Menurut Al Jauhari dalam bukunya, ash-shahhah disebutkan bahwa ashabah-nya laki-laki adalah bapaknya, anaknya dan kerabat sebapak.[2] Dinamakan ashabah karena mereka mengelilinginya. Perhatikan garis keturunannya, bapak di depan, anak di belakang, saudara di samping, dan paman juga disamping. Setiap yang mengelilinginya disebut ashabah. Jadi ashabah secara bahasa artinya kerabat si mayit sebapak.

Dalam istilah fiqih , ashabah berarti ahli waris yang tidak mempunyai begian tertentu, baik besar maupun kecil, yang telah disepakati para ulama (seperti ash-habul furudh) atau yang belum disepakati oleh mereka (seperti dzawil al-arnam)

Menurut pengarang ar-rahbiyyah, ashabah adalah setiap orang yang mendapatkan semua harta waris, yang terdiri dari kerabat atau mawali tuan atau orang yang memerdekakan budak atau tetapi yang mendapatkan sisa setelah pembagian bagian tetap.

  1. Susunan dan Pembagiannya Ashabah

Ashabah terbagi menjadi  dua yaitu ‘ashabah nasabiyyah (karena nasab) dan ‘ashabah sababiyyah (karena sebab). ‘ashabah nasabiyyah adalah mereka yang menjadi kerabat  si mayit dari laki-laki yang tidak diselingi, antaranya dan antara si mayit, oleh seorang perempuan, seperti anak, bapak, suadara sekandung atau suadara sebapak dan paman kandung atau paman sebapak. Termasuk didalamnya anak perempuan apabila ia menjadi ‘ashabah dengan saudaranya (anak laki-laki) atau saudara perempuan sekandung atau sebapak yang menjadi ‘ashabah karena ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki, atau karena ada bersama keduanya.

Allah SWT berfirman:[3]

ÞOä3ŠÏ¹qムª!$# þ’Îû öNà2ω»s9÷rr& ( ̍x.©%#Ï9 ã@÷VÏB Åeáym Èû÷üu‹sVRW{$# 4 bÎ*sù £`ä. [ä!$|¡ÎS s-öqsù Èû÷ütGt^øO$# £`ßgn=sù $sVè=èO $tB x8ts? ( bÎ)ur ôMtR%x. Zoy‰Ïmºur $ygn=sù ß#óÁÏiZ9$# 4 Ïm÷ƒuqt/L{ur Èe@ä3Ï9 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB â¨ß‰¡9$# $£JÏB x8ts? bÎ) tb%x. ¼çms9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù óO©9 `ä3tƒ ¼ã&©! Ó$s!ur ÿ¼çmrO͑urur çn#uqt/r& ÏmÏiBT|sù ß]è=›W9$# 4 bÎ*sù tb%x. ÿ¼ã&s! ×ouq÷zÎ) ÏmÏiBT|sù â¨ß‰¡9$# 4 .`ÏB ω÷èt/ 7p§‹Ï¹ur ÓÅ»qム!$pkÍ5 ÷rr& AûøïyŠ 3 öNä.ät!$t/#uä öNä.ät!$oYö/r&ur Ÿw tbrâ‘ô‰s? öNßg•ƒr& Ü>tø%r& ö/ä3s9 $YèøÿtR 4 ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã $VJŠÅ3ym ÇÊÊÈ

Artinya: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  (Q.S. an-Nisaa: 11)

Sedangkan ‘ashabah sababiyyah adalah ‘ashabah dari orang yang memerdekakan budak, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi yang menjadi ‘ashabah bin nafsih, seperti anaknya, bapaknya, saudaranya, pamannya, bukan yang menjadi ‘ashabah bil ghair atau ‘ashabah ma’al ghair, seperti anak perempuan orang yang memerdekakan budak dan saudara perempuannya.

Mengenai Ashabah nasabiyyah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. ‘Ashabah bil nafsi
  2. 2.    ‘Ashabah bil ghair
  3. 3.    ‘Ashabah ma’al ghair

 

  1. 1.    ‘Ashabah bil nafsi

Orang-orang yang menjadi ahli waris ‘Ashabah bil nafsi adalah

جَمِيْعُ الذُّ كُوْرِ إِلاَّ الزَّوْجُ وَالْأَخُّ لِلْأُمِّ

seluruh ahli waris laki-laki, selain dari pada suami dan saudara laki-laki seibu.[4]

Jadi, orang-orang yang berhak menjadi pemerima ‘ashabah bil nafsi hanya 12 orang yaitu:[5]

  1. Anak laki-laki
  2. Cucu laki-laki pancar laki-laki
  3. Bapak
  4. Kakek
  5. Saudara laki-laki sekandung
  6. Suadara laki-laki sebapak
  7. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung
  8. Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak
  9. Paman sekandung
  10.  Paman sebapak
  11.  Anak laki-laki paman sekandung
  12.  Anak laki-laki paman sebapak

contoh

  1. Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris hanya anak perempuan.
  2. Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris: istri dan anak laki-laki.
  3. Seorangbmeninggal dunia, meninggalakan ahli waris: suami saudara perempuan dan paman dari pihak bapak.
  1. 2.      ‘Ashabah bil ghair

‘Ashabah bil ghair adalah setiap perempuan yang mempunyai bagian tertentu, yang ada bersama laki-laki yang sederajat dengannya.[6] Dalam keadaan seperti ini, dia menjadi ‘ashabah dengan laki-laki itu. Hal ini tidak terjadi, kecuali pada orang yang yang mewarisi setengah (1/2) dari warisan ketika sendirian dan dua pertiga (2/3) ketika mewarisi bersama-sama, lebih dari satu orang. Mereka yang termasuk ‘ashabah bil ghair ada empat kelompok yaitu sebagai berikut:[7]

  1. Anak perempuan yang mewarisi bersama dengan anak laki-laki. Apabila ia bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki, ia menjadi orang yang mendapat bagian tetap.
  2. Cucu perempuan yang mewarisi bersama cucu laki-laki. Maksudnya satu cucu perempuan dari anak laki-laki atau lebih yang ada bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki yang sederajat dengannya, baik cucu laki-laki itu saudaranya atau anak pamannya dari pihak bapak. Begitu pula halnya jika ada bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki yang lebih rendah derajatnya, ia dapat menjadi ‘ashabah dengan cucu laki-laki tersebut, kalau ia sangat memerlukannya. Misalnya jika ia tidak mendapatkan sedikit pun dari bagian dua per tiga (2/3), sampai ia mendapatkan warisan.

Contohnya, seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris: 2 anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki dan cicit dari cucu laki-laki dari anak laki-laki. Jika tidak diperlukan, cicit laki-laki dari cucu laki-laki dari anak laki-laki yang lebih rendah derajatnya tersebut tidak bisa menjadi ‘ashabah dengan cucu perempuan itu. Namun, cucu perempuan tersebut dapat mengamabil bagian tetapnya, sedangkan sisanya diambil oleh cicit laki-laki dari cucu laki-laki dari anak laki-laki itu sebagai ‘ashabah.

  1. Suadara perempuan sekandung/sebapak yang mewarisi bersama saudara laki-laki sekandung/sebapak. Jadi apabila saudara perempuan sekandung bersama dengan saudara laki-laki sekandung maka mereka menjadi ‘ashabah dan sebaliknya jika saudara perempuan sebapak bersama dengan saudara laki-laki sebapak maka mereka menjadi ‘ashabah. Tetapi jika saudara perempuan sekandung bersama dengan saudara laki-laki sebapak maka ia tidak bisa menjadi ‘ashabah. Namun, ia hanya mendapat separuh (1/2) sebagai bagian tetap. Dan apabila lebih dari satu orang maka mendapat dua per tiga (2/3). Sementara itu saudara laki-laki sebapak mendapatkan sisa sebagai ‘ashabah.
  2. Saudara perempuan sebapak bersama saudara laki-laki sebapak. Apabila mereka ada bersama saudara kandung si mayit, mereka tidak mendapat apa-apa, karena terhalang oleh saudara kandung.

Ada beberapa syarat dalam ‘ashabah bil ghair sebagai berikut:[8]

  1. Haruslah wanita yang tergolong ashhab al furudh. Bila wanita tersebut bukan dari ashhab al furudh, dia tidak akan menjadi ‘ashabah bil ghair. Sebagai contoh, anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi ‘ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. Jadi anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhab al furudh.
  2. Laki-laki yang menjadi ‘ashabah harus yang sederajat. Misalnya, anak laki-laki tidak dapat menjadi penguat cucu perempuan kaerana naka laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan, bahkan ia berfungsi sebagai penghalang hak waris cucu.  Begitu juga anak laki-laki keterunan saudara laki-laki, tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat.
  3. Laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahib al-fardh. Misalnya saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta’shih saudara kandung perempuan sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah.

 

  1. 3.      ‘Ashabah ma’al ghair

‘Ashabah ma’al ghair adalah setiap perempuan yang berhak mendapatkan bagian tetap bisa bisa menjadi ‘ashabah jika bersama perempuan yang lain dan ini khusus untuk saudara perempuan kandung atau sebapak, yang bersama furu’ perempuan yang mewarisi.[9] ‘Ashabah ma’al ghair ini hanya ada dua, yang berasal dari ash-habul furudh, yaitu sebagai berikut:

  1. Seorang saudara perempuan kandung atau lebih, yang ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki, atau ada bersama mereka berdua.

Contoh seorang meninggal dunia, meningggalkan ahli waris: suami, anak perempuan, saudara perempuan kandung dan nenek. Asal masalah kasus ini adalah 12, dengan perincian; suami mendapatkan seperempat (¼), anak perempuan mendapat separuh (½), nenek seperenam (1/6) dan saudara perempuan kandung mendapatkan sisa sebagai’ashabah, karena ada bersama anak perempuan. Di bawah ini tabel dari kasus tersebut.

Asal Masalah: 12

Suami ¼ 3
Anak perempuan ½ 6
Nenek 1/6 2
Saudara Perempuan Kandung Sisa/ ashabah 1
  1. Seorang saudara perempuan sebapak atau lebih, yang ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki, atau ada bersama mereka berdua.

Contoh seorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris; anak perempuan, cucu perempuan saudara perempuan sebapak. Asal maslahnya adalah 6, dengan perincian; naka perempuan mendapatkan separuh (½), cucu perempuan mendapatkan seperenam (1/6), saudara perempuan sebapak mendapatkan sisa sebagi ‘ashabah.

Asal Masalah: 6

Anak perempuan ½ 3
Cuc perempuan dari anak laki-laki 1/6 1
Saudara Perempuan sebapak Sisa/ ashabah 2
  1. Kesimpulan

Saudara perempuan kandung yang menjadi ashabah karena ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan, menjadi sekuat saudara laki-laki kandung. Ia dapat menghalangi saudara laki-laki dan saudara perempuan sebapak atau orang yang ada dibawahnya.

Saudara perempuan sebapak yang menjadi ‘ashabah karena ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan, menjadi sekuat saudara laki-laki sebapak. Ia dapat menghalangi anak-anak laki-laki saudara kandung atau sebapak dan orang  yang ada dibawahnya.

Jika saudara perempuan kandung ada bersama saudara laki-laki kandung, ia menjadi ‘ashabah bil ghair bukan ‘ashabah ma’al ghar. Sisa harta waris dibagikan untuk mereka berdua, dimana laki-laki mendapatkan bagian sebesar dua bagian perempuan.

 

 

 

 

 

PENUTUP

Demikianlah makalah yang kami buat, apabila ada kesalahan baik dalam penulisan ataupun pembahasan serta penjelasan kurang jelas, kami mohon maaf. Karena kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Kami  ucapkan terima kasih atas perhatian dan pastisipasinya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Hukum Waris. Jakarta: Senayan Abadi Publishin, 2009.

Usman, Suparman dan Somawinata, Yusuf. Fiqih Mawaris. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002.

Saebani, Beni Ahmad. Fiqh Mawaris. Bandung: Pustaka Setia, 2009.


[1] Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Hukum Waris. Jakarta. (Senayan Abadi Publishing, 2009), Hal. 251

[2] Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Hukum Waris. Jakarta. (Senayan Abadi Publishing, 2009), Hal. 252

[3] Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Hukum Waris. Jakarta. ( Senayan Abadi Publishing, 2009), Hal. 254

[4] Suparman Usman dan Yusuf Somawinata. Fiqih Mawaris.  Jakarta. (Gaya Media Pratama, 2002), Hal. 74

[5] Suparman Usman dan Yusuf Somawinata. Fiqih Mawaris.  Jakarta. (Gaya Media Pratama, 2002), Hal. 75

[6] Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Hukum Waris. Jakarta. ( Senayan Abadi Publishing, 2009), Hal. 262

[7] Beni Ahmad Saebani. Fiqh Mawaris. Bandung. (Pustaka Setia, 2009), Hal.163

[8] Beni Ahmad Saebani. Fiqh Mawaris. Bandung. (Pustaka Setia, 2009), Hal.164

[9] Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Hukum Waris. Jakarta. (Senayan Abadi Publishing, 2009), Hal. 266

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: