jump to navigation

Manusia Dan Penderitaan Desember 27, 2012

Posted by ristek26 in Ilmu Budaya Dasar.
trackback

BAB I

PENDAHULUAN

Alhamdulillah akhirnya kami pemakalah dapat menyelesaikan tulisan makalah kami yang berjudul “Manusia dan Penderitaan”. pada hakikatnya manusia itu makhluk sosial yang tidak hidup sendiri. Kalau dikaitkan dengan penderitaan akan timbul banyak, karena penderitaan itu bermakna banyak tergantung pandangan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kami memaparkan apa itu penderitaan dillihat dari intensitas bagaimana manusia itu bisa menerima sebagai sebuah penderitaan. berat atau ringan sebuah penderitaan tergantung dari manusia  itu sendiri.

Dalam agama Islam khususnya penderitaan mempunyai makna sebuah keindahan dibalik musibah. Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang penderitaan dan keindahannya. Dalam Ilmu Budaya Dasar Manusia dan penderitaan dimaknai dengan cara yang berbeda, maksudnya ada beberapa pandangan dari para pemikir barat yang mengartikan penderitaan dalam satu pandangan/sisi, dan pemikir Islam mempunyai pandangan yang berbeda dari semua sisi dan lebih luas maknanya. Insya Allah dengan makalah ini sedikit banyak kita dapat memahami dan mengerti manusia dan penderitaannya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    PENDERITAAN

Penderitaan berasal dari kata derita. Derita berasal dari bahasa Sansekerta ‘Dhra’ yang berarti menahan atau menanggung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, derita artinya menanggung (merasakan) sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, penderitaan merupakan lawan kata dari kesenangan atau kegembiraan.

Penderitaan termasuk realitas manusia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat. Ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan, suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.

Penderitaan dan Kenikmatan

Tujuan hidup manusia yang populer adalah kenikmatan, sedangkan penderitaan adalah peristiwa yang selalu dihindari oleh manusia. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya, antara lain: penderitaan karena alasan fisik seperti bencana alam, penyakit dan kematian; penderitaan karena alasan moral, seperti kekecewaan dalam, matinya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan seterusnya. Semua ini menyangkut duniawi dan tidak mungkin disingkirkan dari dunia dan dari kehidupan manusia.

Kenikmatan dirasakan apabila yang disukai sudah didapat, dan penderitaan dirasakan apabila sesuatu yang menyakitkan menimpa pada dirinya. Ada satu aliran yang ingin secara mutlak menghindari penderitaan yakni Hedonisme[1], aliran berpandangan bahwa kenikmatan merupakan tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia, dan kunci menuju hidup baik. Penafsiran hedonisme ada dua macam, yaitu:

  1. Hedonisme psikologis yang berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan.
  2. Hedonisme etis yang berpandangan bahwa semua tindakan ‘harus’ ditujukan kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan.

Kritik terhadap hedonisme ialah bahwa tidak semua tindakan manusia hedonistis, bahkan banyak orang yang tampaknya merasa bersalah atas kenikmatan-kenikmatan mereka. Dan hal ini menyebabkan mereka mengalami penderitaan.

Penderitaan dan kasihan

Sebuah ungkapan mengatakan:”Dalam menghadapi penderitaan itu, manusia merasa kasihan”. Menurut Nietzsche, pernyataan ini tidak benar, penderitaan itu adalah suatu kekurangan vitalitas. Selanjutnya ia berkata,”Sesuatu yang viital dan kuat tidak menderita, oleh karenanya ia dapat hidup terus dan ikut mengembangkan kehidupan semesta alam. Orang kasihan adalah yang hilang vitalitasnya, rapuh, busuk, dan runtuh. Kasihan itu merugikan perkembangan hidup”. Sehingga dikatakannya bahwa kasihan adalah pengultusan penderitaan. Pernyataan Nietzsche ini ada kaitannya dengan latar belakang kehidupannya yang penuh penderitaan. ia memberontak terhadap penderitaan sebagai realitas dunia.

Pandangan Nietzsche tidak dapat disetujui karena: Pertama, dimana letak humanisnya. Kedua, bahwa penderitaan itu ada dalam hidup manusia dan dapat diatasi dengan sikap kasihan. Ketiga, tidak mungkin orang yang membantu penderita, menyingkir dan senang bila melihat orang yang menderita.

Penderitaan dan Noda Dosa pada Hati Manusia

Penderitaan dapat pula timbul akibat noda dosa pada hati manusia (Al-Ghazali).  Dalam kitabya Ihya ulumuddin, orang yang suka iri hati, hasad, dan dengki akan menderita hukuman lahir batin selalu akan merasa tidak puas dan tidak kenal berterimakasih. Allah telah memberi ilmu dan kekayaan atau kekuasaannya karena itu penderitaan-penderitaan lahir ataupun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat tersebut diatas sampai akhir kelak. Untuk mengobat hati yang menderita, sebelumnya perlu diketahui tanda-tanda hati yang sedang gelisah. Perlu diketahui setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Kalau hati sakit maka fisik tidak mampu melakukan pekerjaan secara sempurna. Ciri hati yang sakit tidak berilmu, berhikmah, bermakrifah, mencintai Allah.

Ayat yang berkaitan dengan ciri-ciri yang menderita, Allah berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia hanya agar menyembah kepadaKu.” (Qs. 51:56)

“Barang siapa merasa mengerti sesuatu, tapi tidak mengenal Allah, maka sesungguhnya orang itu tidak mengerti apa-apa. Barang siapa mempunyai sesuatu yang sangat dicintainya lebih daripada mencintai Allah maka sesungguhnya hatinya sakit. “katakanlah, hai Muhammad, apabila orang tuamu, anakmu, saudaramu, istrimu, handai tolanmu dan harta bendamu yang engkau tumpuk dalam simpanan serta barang dagangan yang engkau khawatirkan ruginya dan rumah tempat tinggal yang kamu senangi itu lebih kamu cinta dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai perintah Allah datang”.(Qs. 29:24)

 

Penderitaan sebagai fenomena universal

Penderitaan memang tidak hanya menjadi lantaran perang ataupun tingkah laku manusia agresif lainnya. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab penderitaan manusia, misalnya bencana alam, musibah atau kecelakaan, penindasan, perbudakan, kemiskinan, dan sebagainya. Selain itu, penderitaan boleh juga dibilang fenomena universal sebab tidak mengenal ruang dan waktu.

Ini berarti bahwa penderitaan tidak hanya dialami oleh manusia pada zaman kini saja, saat kebutuhan dan tuntutan hidup semakin meningkat yang bisa menimbulkan penderitaan bagi yang tidak mampu memenuhinya. Akan tetapi, penderitaan, konon telah dikenal sejak kelahiran manusia pertama.

Sebagai fenomena universal, penderitaan penderitaan tidak mengenal perbedaan manusia. Artinya, penderitaan bisa pula dialami manusia-manusia yang suci, bahkan Rasul atau Nabi sekalipun. Pengalaman hidup Nabi Muhammad saw dan Yesus Kristus mungkin bisa dipakai sebagai pembenar dari konstitusi tersebut.

  1. B.     SIKSAAN

Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan.

Dalam Al-Qur’an diterangkan jenis dan ancaman siksaan yang dialami manusia diakhirat nanti, yaitu siksaan bagi orang-orang musyrik, dengki, memfitnah, mencuri, makan harta anak yatim, dan sebagainya. Antara lain dalam surat al-Ankabut:40, “Maka masing-masing (mereka itu) kami azab karena dosa-dosanya, diantara mereka ada yang Kami  timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri”.

Dan dalam Ilmu Budaya Dasar, masalah siksaan diuraikan dalam beberapa bentuk, seperti:

  1. Kebimbangan

Kebimbangan dialami oleh seseorang apabila ada satu saat dia tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Kebimbangan akan berpengaruh tidak baik orang yang lemah berpikirnya, karena hal ini akan lama dialaminya sehingga siksaan yang dirasakan pun menjadi berkepanjangan.

  1. Kesepian

Kesepian dialami oleh seseorang berupa rasa sepi dalam dirinya atau jiwanya. Hal ini akan terus dirasakan walaupun ia dalam lingkungan yang ramai. Oleh karena itu, tidak boleh dicampuradukkan dengan keadaan sepi seperti yang dialami oleh pertapa atau biarawan yang tinggalnya di tempat sepi. Walaupun tempat mereka sepi, tetapi hati mereka tidak sepi.

  1. Ketakutan

Ketakutan merupakan hal lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan, antara lain:

  • Claustrophobia, merupakan ketakutan yang timbul apabila seseorang berada dalam ruangan tertutup, misalnya yang terjadi pada anak kecil.
  • Agoraphobia, merupakan ketakutan yang timbul apabila seseorang berada di tempat terbuka.
  • Actophobia, merupakan ketakutan yang timbul apabila seseorang berada di tempat tinggi.
  • Kegelapan, merupakan ketakutan dalam diri seseorang yang timbul apabila berada di tempat yang gelap.
  • Kesakitan, merupakan ketakutan yang disebabkan oleh rasa sakit yang dialami.
  • Kegagalan, merupakan ketakutan dari seseorang karena merasa bahwa apa yang akan dijalankannya tidak berhasil.
  1. C.    KEKALUTAN MENTAL

Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.

Gejala-gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah: tampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak nafas, demam, nyeri pada lambung. Dan tampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis , cemburu, mudah marah.

Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental, antara lain sebagai berikut:

  • kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna. Hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkakn kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
  • Terjadi konflik sosial budaya akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat.
  • Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.

BAB III

PENUTUP

Demikianlah makalah ini kami buat dengan ketidaksempurnaan tapi Insya Allah bermanfaat bagi kita semua dan dapat diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari tetapi yang bernilai positif, khususnya buat kita yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan tentang budaya dasar khususnya yang berkaitan dengan manusia dan penderitaan.

فان مع العسر يسرا (الشرح : 5)

“Maka  sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

 

 

 

REFERENSI

  1. M. Munandar Soelaeman. 2001. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung. Refika Aditama.
  2. Drs. Supartono W.,M.M. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Bogor. Ghalia Indonesia.
  3. Ramdani Wahyu M.Ag.,M.Si. 2008. Ilmu Budaya Dasar: IBD. Bandung. Pustaka Setia.

[1] Hedonisme adalah doktrin yang mengatakan bahwa kebaikan yang pokok dalam kehidupan adalah kenikmatan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: