jump to navigation

Qashas Al-Quran Desember 27, 2012

Posted by ristek26 in Ulumul Quran.
trackback

PENDAHULUAN

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an merupakan salah satu cara untuk menyampaikan dakwah Islam. Allah telah mengisahkan kepada kita dengan kisah-kisah yang sangat banyak dalam Al-Qur’an. Yang demikian ini agar kita dapat berpikir, merenungkan kisah-kisah tersebut dan menemukan hikmah dan nasihat di dalamnya, serta dapat menggali pelajaran- pelajaran sebagai pedoman hidup. Begitu juga dalam qashahs Al-Qur’an, Allah telah memberikan pada kita hiburan, ketabahan, keteguhan hati dan kesabaran untuk tetap melakukan usaha dan perjuangan. Kisah-kisah Al-Qur’an dalam tema-temanya, dalam cara penyampaiannya, dan dalam alur kejadiannya tunduk dengan maksud tujuan keagamaan. Namun demikian masih tidak menghalangi munculnya benih-benih keistimewaan seni dalam pemapaparannya. Pemapaparan Al-Qur’an menyatukan antara maksud tujuan keagamaan dan maksud tujuan seni dalam segala gambaran dan fenomena yang dapat dipaparkannya. Bahkan bisa diperhatikan bahwa Al-Qur’an menjadikan keindahan seni sebagai alat untuk mempengaruhi perasaan.

Dalam kesempatan ini kami pemakalah akan memaparkan tentang Pengertian Qashash Al-Qur’an, Macam-macam Qashash Al-Qur’an, Faidah Qashash Al-Quran, Hikmah Pengulangan Qashash dalam Al-Quran, Perbedaan Kisah dalam Al-Quran dengan yang lainnya dan Pengaruh kisah Al-Quran dalam pendidikan.

PEMBAHASAN

  1. 1.    Pengertian Qashash Al-Quran

Secara etimologi qashash ((قصص  merupakan bentuk jamak dari kata   قصّة)) yang berarti berita, kisah, perkara dan keadaan.[1]

Sebagaimana firman Allah :

¨bÎ) #x‹»yd uqßgs9 ßÈ|Ás)ø9$# ‘,ysø9$# 4

Artinya: “Sesungguhnya ini adalah kisah-kisah yang benar.” (Q.S. Ali Imran: 62)

(قصّة) juga berarti mengikuti jejak.

Sebagaimana firman Allah:

#£‰s?ö‘$$sù #’n?tã $yJÏd͑$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ

Artinya : “Lalu keduanya mengikuti kembali jejak mereka sendiri.” (Q.S. Al Kahfi: 64)

 Al-Qur’an telah menyebutkan kata kisah dalam beberapa konteks, pemakaian dan tashrif (konjugasi)nya; dalam bentuk fi’il madhi, fi’il mudhari’, fi’il amr dan mashdar.[2]

Secara terminologi, qashash Al-Qur’an adalah kisah-kisah dalam Al-Qur’an yangmenceritakan keadaan umat-umat terdahulu dan Nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yangterjadi masa lampau, masa Sekarang dan masa yang akan datang.[3]

Sedangkan Mana’ al-Qathan mendefinisikan qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, kenabian yang terdahulu dan peristiwa-peristiwayang telah terjadi.[4]

Qashash Al-Quran adalah berita-berita tentang keadaan umat di masa lalu.[5] Sejarah umat menyebutkan negeri-negeri dan kampung-kampung mereka itu. Membahas bekas-bekas peninggalan tiap-tiap orang hidup berkelompok. Menceritakan perihal mereka dalam bentuk bicara tentang apa yang mereka kerjakan.

  1. 2.    Macam-macam Qashash Al-Quran

Ada tiga macam kisah dalam Alquran yaitu[6]:

  1. Kisah Nabi-nabi yaitu mengenai dakwah yang mereka jalankan kepada kaumnya. Mujizat-mujizat yang diberikan Allah SWT kepada mereka itu. Pendirian orang-orang yang menentang. Tahap-tahap dakwah dan perkembangannya. Akibat yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang mendustakan. Seperti kisah Nabi Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Harun as, Isa as, Muhammad SAW dan Nabi-nabi serta Rasul-rasul lainnya.
  2. Kisah Al-Quran yang bersangkut dengan peristiwa-peristiwa yang sudah kabur (tidak jelas lagi). Dan orang-orang yang belum jelas kenabiannya. Seperti kisah orang-orang yang dibuang dari negerinya. Mereka itu sudah beribu-ribu tahun tinggal. Kisah Tahalut dan Jalut, anak Adam, Maryam, Ash-habul Ukhdud, Ash-habul Fil dan lain-lain.
  3. Kisah yang bersangkutan dengan kejadian-kejadian dizaman Rasul SAW. Seperti perang Badar, perang Uhud, dalam surat Ali Imran. Perang Hunain dan Tabut dalam surat Taubah. Perang Al Ahzab dalam suarat Al Ahzab. Hijrah, Israk dan lain-lain.

  1. 3.    Faidah Qashash Al-Quran

Kisah Al Quran mempunyai beberapa Faidah diantaranya ialah:

  1. Menjelaskan asas dakwah kepada Allah dan menerangkan sendi-sendi syariat yang dengan syariat itulah diutus Nabi-nabi.

!$tBur $uZù=y™ö‘r& `ÏB šÎ=ö6s% `ÏB @Aqߙ§‘ žwÎ) ûÓÇrqçR Ïmø‹s9Î) ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& Èbr߉ç7ôã$$sù ÇËÎÈ

Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (Q.S. An-Anbiyah : 25)

  1. Mengokohkan hati Rasul SAW dan hati umat Muhammad SAW terhadap agama Allah.[7] Dan lebih menekankan benarnya orang-orang Mukmin dengan pertolongan dan tentaranya dan menghina yang bathil.

yxä.ur Èà)¯R y7ø‹n=tã ô`ÏB Ïä!$t6/Rr& È@ߙ”9$# $tB àMÎm7sVçR ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù 4 x8uä!%y`ur ’Îû Ínɋ»yd ‘,ysø9$# ×psàÏãöqtBur 3“tø.όur tûüÏYÏB÷sßJù=Ï9 ÇÊËÉÈ

Artinya: “Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”.( Q.S. Hud: 120)

  1.  Membenarkan Nabi-nabi yang dahulu dan menghidupkan kembali ingatan kepadanya dan mengabadikan bekas-bekas peninggalnya.
  2. Menyatakan kebenaran Muhammad SAW dalam segi dakwah dengan apa yang diberitahukan olehnya tentang hal ihwal masa-masa yang berlalu yang sudah berabad-abad dan sudah beberapa generasi.
  3. Untuk berdebat dengan ahli kitab dengan hujah seperti apa yang mereka sembunyikan tentang anak-anak perempuan. Dan membatasi mereka dengan apa yang terdapat dalam kitab-kitab mereka sebelum kitab itu mereka rubah-rubah dan dipertukar-tukarkan  letaknya.

 ‘@ä. ÏQ$yè©Ü9$# tb$Ÿ2 yxÏm ûÓÍ_t6Ïj9 Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) žwÎ) $tB tP§ym ã@ƒÏäÂuŽó Î) 4’n?tã ¾ÏmÅ¡øÿtR `ÏB È@ö6s% br& tA¨”t\è? èp1u‘öq­G9$# 3 ö@è% (#qè?ù’sù Ïp1u‘öq­G9$$Î/ !$ydqè=ø?$$sù bÎ) öNçGZä. šúüÏ%ω»|¹ ÇÒÌÈ

Artinya: “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan[8]. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah Dia jika kamu orang-orang yang benar”.(Q.S. Ali Imran: 93)

  1. Kisah yang mencontohkan tentang adab sopan santun, enak sekali didengar dan meresap ke dalam hati.

ô‰s)s9 šc%x. ’Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouŽö9Ï㠒Í<‘rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVƒÏ‰tn 2”uŽtIøÿム`Å6»s9ur t,ƒÏ‰óÁs? “Ï%©!$# tû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ Ÿ@‹ÅÁøÿs?ur Èe@à2 &äóÓx« “Y‰èdur ZpuH÷qu‘ur 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÊÊÊÈ

Artinya:  “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.(Q.S. Yusuf: 111)

 

  1. Pengajaran yang tinggi yang menjadi cermin perbandingan bagi segala umat. Serta didalamnya kita dapati akibat kesabaran, sebagaimana sebaliknya kita dapati akibat keingkaran.[9]

  1. 4.    Hikmah Pengulangan Qashash Al-Quran

Di dalam Al-Quran banyak terdapat kisah-kisah yang diulang-ulnag menyebutkannya tempat yang berlain-lainan. Ada kisah itu yang disebut lebih dari satu kali dalam Al-Quran. Terdapat pada surat yang berbeda-beda baik pada bagian permualan maupan pada bagian belakang.

I’jaz dan ithnab dan apa-apa yang diserupakan denga itu ada mempunyai hikmah. Diantara hikmahnya ialah sebagai berikut:

  1. Menerangkan bahwa balaghahnya Al-Quran itu lebih tinggi mutunya. Ada keistimewaan balaghahnya Al-Quran itu. Artinya itu jelas dalam bentuk yang berbeda-beda. Kisah yang berulang-ulang itu terdapat pada setiap judul dengan metode berbeda dari lainnya. Corak wadahnya itu berbeda. Sebenarnya tidak ada orang yang  berkeinginan untuk mengulang-ulangnya itu, tapi hanya untuk melakukan pembaharuan dari arti-arti yang tidak didapat pada tempat itu.
  2. Kekuatan i’jaz, maksud dari artinya itu hanya satu, tapi bentuknya banyak. Orang arab itu sendiri tidak ada yang sanggup membuat satu surat pun, ketika mereka itu diajak untuk bertanding.
  3. Yang penting kisah itu diserapkan ke dalam hati. Mengulang-ulangnya itu adalah salah satu cara untuk memantapkan dan merupakan hal-hal yang penting. Seperti halnya kisah Nabi Musa as dengan Fir’aun. Disini terbayang dimata orang pertarungan antara yang hak dengan yang bathil. Disamping itu ada pula kisah tidak diulang-ulang dalam satu surat.
  4. Berbeda tujuan yang dituju tersebab adanya kisah. Disebutkan ada beberapa arti yang cukup dimengerti maksudnya itu mengenai sautu masalah. Dan menjelaskan arti-arti lain pada seluruh tempat  karena berbeda hal ihwal yang berlaku.

  1. 5.    Perbedaan Kisah dalam Al-Quran dengan lainnya

Al-Quran dalam memberikan pengajaran bagi manusia salah satu caranya dengan menguraikan peristiwa-peristiwa pada masa lalu dalam bentuk kisah-kisah.

Didalam Al-Quran bila Al-Quran hendak menyampaikan pesan-pesan penting yang terdapat di dalam suatu kisah, cara yang digunakannya adalah mengemukakan pernyataan tegas secara berjenjang, baik isi penolakan maupun pengukuhan isi kisah.[10]

Al-Quran mengunakan cara terbaik dalam menyampaikan pengajaran melalui penguraian kisah. Suatu kisah yang disampaikan dengan metode sebagaiman yang ditempuh Al-Quran akan menimbulkan kesan mendalam bagi para pembaca dan pendengarnya. Sebaliknya jika suatu kisah disampaikan dengan cara lain, akan  sangat sulit memberikan perincian-perincian pesan yang hendak disampaikan dalam kisah tersebut. Itu bagaikan mengemukakan kisah panjang tanpa lebih dahulu memberikan ringkasan ceritanya.

Metode penyampaian pesan melalui kisah dapat kita lihat antara lain ketika Al-Quran menceritkan kisah Nabi Yusuf a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Adam a.s. dan Ashab Al-Kahf.

Ketika kisah Nabi Yusuf a.s., Al-Quran memulainya dengan ayat yang berbunyi:

ß`øtwU Èà)tR y7ø‹n=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZø‹ym÷rr& y7ø‹s9Î) #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# bÎ)ur |MYà2 `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% z`ÏJs9 šúüÎ=Ïÿ»tóø9$# ÇÌÈ

Artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui”.(Q.S. Yusuf: 3)

 Setelah mengukuhkan kebaikan kisah yang hendak dikemukakna dan menceritakan secara singkat  ramgkuman kisah Nabi Yisuf a.s., Al-Quran kemudian menegaskan:

ô‰s)©9 tb%x. ’Îû y#ߙqムÿ¾ÏmÏ?uq÷zÎ)ur ×M»tƒ#uä tû,Î#ͬ!$¡¡=Ïj9 ÇÐÈ

Artinya: “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya”.(Q.S. Yusuf: 7)

 

Setelah itu barulah Al-Quran menguraikan kisah Nabi Yusuf a.s. secara deskriptif sampai selesai.

  1. 6.    Pengaruh Kisah Al-Quran dalam Pendidikan

Dalam hal ini tidak diragukan bahwa kisah Al-Quran itu mempunyai hikmah yang halus, meresap ke dalam jiwa orang yang mendengarkannya. Dengan mudah menembus sampai ke dalam jiwa. Jalannya itu gerak memelingkar( seperti menghasta kain sarung) mempengaruhi seluruh perasaan. Mencungkam kelubuk hati. Unsur-unsurnya itu dipetik dari taman bunga dan buah-buahan.[11]

Pelajaran yang diberikan berbentuk kata-kata bersajak diwarisi dari agama-agama dan kepercayaan. Tidak seseorang juga yang sanggup mengertikan kata-kata sajak itu berturut-turut, kecuali dengan susah dan payah. Dalam hal ini metode yang dipakai oleh Al-Quran itu ternyata lebih bermanfaat dan banyak faidahnya. Menurut yang diketahui Al-Quran itu mempengaruhi sampai-sampai kepada kehidupan anak-anak. Anak-anak itu ingin sekali mendengarkan kisah-kisah. Dalam perkembangna fitrah jiwa maka sebaiknya kesempatan ini dipergunakan oleh pendidik. Dimuat dalam majalah-majalah pendidikan dan pengajaran. Lebih-lebih lagi pengajaran agama yang menjadi inti pelajaran. juga diusahakan untuk meluruskan tujuan.

Kisah Al-Quran itu merupakan tanah subur yang mnembantu para pendidik untuk berhasilnya apa yang dicita-citanya. Sebagai pelajaran tambahan maka anak didik itu dibentangkan riwayat Nabi-nabi, berita-berita  mengenai masa yang lalu, sunatullah dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ihwal bangsa-bangsa. Dan jangan lupa mengatakan yang hak dan yang bathil.

KESIMPULAN

Qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang umat yang telah lalu, kenabian yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Dan qashash mempunyai faidah-faidah yang bisa kita ambil serta hikmah-hikmah dalam pengulangan kisah-kisahnya. Khususnya dalam dunia pendidikan sangatlah membantu.

 

PENUTUP

Demikianlah makalah yang kami buat, apabila ada kesalahan baik dalam penulisan ataupun pembahasan serta penjelasan kurang jelas, kami mohon maaf. Karena kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Kami  ucapkan terima kasih atas perhatian dan pastisipasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Quthan, Mana’ul, Pembahasan Ilmu Al-Quran, Jakarta:  PT. Rineka Cipta, 1995

Ash Shiddieqy, M. Hasbi, Sejarah Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1954

Dahlan, Abd. Rahman, Kaidah-kaidah Penafsiran Al-Quran, Bandung: Mizan, 1997

Luwes, al-Munjid fi al-Lughah, Bairut: Dar al-Masyriq, 1998

Fattah al-Khaldi, Shalah Abdul, Ma’a Qishash al-Sabiqin fi Al-Qur’an, alih bahasa: Abdullah, Kisah-kisah Al-Qur’an; Perjalanan dari Orang-orang Dahulu, Jakarta: Gema Insani Press, 1999

Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998

al-Qathan, Mana’, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Bairut: al-Syirkah al-Muttahidah li al-Tauzi’, 1973


[1] Luwes, al-Munjid fi al-Lughah (Bairut: Dar al-Masyriq, 1998), hal. 631.

 

[2] Shalah Abdul Fattah al-Khaldi, Ma’a Qishash al-Sabiqin fi al-Qur’an, alih bahasa: Abdullah, Kisah-kisah al-Qur’an; Perjalanan dari Orang-orang Dahulu (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), jilid. I, hal. 21

[3] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), hal. 294

[4] Mana’ al-Qathan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (Bairut: al-Syirkah al-Muttahidah li al-Tauzi’, 1973),hal. 306.

[5] Mana’ul Quthan, Pembahasan Ilmu Al-Quran, Jakarta ( PT. Rineka Cipta, cet. 1, 1995) Hal. 144

[6] Mana’ul Quthan, Hal. 145

[7] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, Jakarta (Bulan Bintang, 1954) Hal. 146

[8]  Sesudah Taurat diturunkan, ada beberapa makanan yang diharamkan bagi mereka sebagai hukuman. Nama-nama makanan itu disebut di dalamnya. Lihat selanjutnya surat An Nisa’ ayat 160 dan surat Al An’aam ayat 146

[9] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Hal. 146

[10] Abd. Rahman Dahlan, Kaidah-kaidah penafsiran Al Quran, Bandung( Mizan, 1997) Hal. 187

[11] Quthan, Mana’ul, Hal. 151

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: